-->
close
Review Lengkap Tentang PKN STAN

Review Lengkap Tentang PKN STAN

Politeknik Keuangan Negara STAN (PKN STAN) adalah Perguruan Tinggi Vokasi di bawah naungan Kementerian Keuangan RI yang menyelenggarakan Program Studi Diploma di Bidang Keuangan Negara. Sesuai dengan Undang Undang Nomor 12 tahun 2012, bentuk tertinggi untuk pendidikan vokasi adalah Politeknik, yang dapat menyelenggarakan pendidikan vokasi mulai dari jenjang Diploma I hingga Doktor (S3) Terapan.
Politeknik Keuangan Negara STAN diresmikan pada tanggal 15 Juli 2015 berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan RI No. 137/PMK.01/ 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Politeknik Keuangan Negara STAN. PKN STAN merupakan transformasi dari sekolah kedinasan yang cukup dikenal yaitu Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN).
Dalam sejarahnya, pendirian Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) melalui periode yang cukup panjang. STAN merupakan penggabungan dari penyelenggara pendidikan tinggi di bidang keuangan negara berbentuk kursus jabatan, akademi, dan sekolah tinggi yang dikelola oleh institusi pemerintah pengelola keuangan negara saat itu yaitu Jawatan Pajak dan Jawatan Pabean yang saat ini kita kenal dengan nama Direktorat Jenderal Pajak dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Berdirinya akademi dan kursus tersebut telah dimulai jauh sebelum Indonesia merdeka sebagai respon terhadap kebutuhan SDM berkeahlian khusus bidang keuangan negara yang belum dapat dipenuhi oleh lembaga pendidikan tinggi lain yang ada saat itu. Namun, dari sumber catatan lengkap yang diketahui bahwa berdirinya STAN dapat dirunut sejak tahun 1952. Nama Sekolah Tinggi Akuntansi Negara sendiri dipakai mulai tahun 1975. Perjalanan sejarah Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, sebagai berikut:
  1. Kursus Jabatan Ajun Akuntan yang didirikan Melalui Surat Keputusan Menteri Keuangan No.167941/UP tanggal 31 Juli 1952. Kursus Djabatan Ajun Akuntan (KDAA) meliputi Ajun Akuntan Negara (AAN) yang diselenggarakan di Bandung dan Ajun Akuntan Pajak (AAP) yang diselenggarakan di Jakarta.
  2. Akademi Pajak dan Pabean (AP2) yang dibentuk melalui Keputusan Menteri Keuangan No:248621/UP tanggal 25 November 1957. Akademi ini awalnya bernama Akademi Pajak yang dibentuk berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan No: 213812/UP pada tanggal 4 Oktober 1956. Penyelenggaraan kuliah Akademi Pajak dan Pabean berada di 3 tempat yang salah satunya dilaksanakan di Jl. Purnawarman 99 Kebayoran Baru Jakarta.
  3. Sekolah Tinggi Ilmu Keuangan Negara (STIKN), berdiri tahun 1959 berdasarkan Surat Keputusan Menkeu No: 175402/UP/X tanggal 31 Desember 1959. Para mahasiswa STIKN juga berkuliah di kampus Purnawarman atau kampus yang dikenal dengan nama Kampus Sumitro Djojohadikusumo. STIKN merupakan pengganti dari Akademi Pajak dan Pabean yang dibubarkan oleh Menteri Keuangan pada saat itu. Selama periode berdirinya STIKN, terdapat pula beberapa sekolah bidang keuangan lain di antaranya Akademi Treasury Negara (ATN) yang dibentuk pada tahun 1958 oleh Departemen Keuangan dan Akademi Dinas Pemeriksa Keuangan (ADPK) yang didirikan tahun 1963 oleh Badan Pemeriksa Keuangan.
  4. Institut Ilmu Keuangan (IIK) yang berdiri pada tahun 1967 berdasarkan Keppres  No.167 tahun 1968. IIK merupakan peleburan dari STIKN, ATN, dan ADPK dan telah berbentuk perguruan tinggi setara dengan perguruan tinggi lainnya yang melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi. Namun pada akhirnya IIK dibubarkan pada tahun 1975.
  5. Sekolah Tinggi Akuntansi Negara pada awalnya bukan merupakan perubahan dari IIK. STAN merupakan salah satu Pusdiklat di bawah Badan Pendidikan dan Latihan keuangan (BPLK) yang dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 45 tahun 1974 jo. Keputusan Presiden Nomor 12 tahun 1967. Pada tanggal 17 Maret 1975 melalui Surat Keputusan Nomor 13495/MPK/1975 diperoleh ijin penyelenggaraan pendidikan akuntan dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Pada tahun pertama berdirinya, penyelenggaraan pendidikan STAN masih menggunakan kampus Purnawarman. Kampus STAN Bintaro mulai digunakan pada tahun 1988, 2 tahun setelah peresmiannya oleh Menteri Keuangan RI saat itu, Radius Prawiro pada tanggal 16 Juli 1986. Sejak saat itu Kampus Bintaro menjadi kampus Sekolah Tinggi Akuntansi Negara atau yang dikenal juga dengan nama kampus Ali Wardhana. Nama kampus Ali Wardhana diberikan sebagai penghargaan kepada Menteri Keuangan era tahun 1968 hingga 1983.
Sebelum dikenal dengan nama kampus STAN Bintaro, dulunya kampus ini bernama Kampus STAN Jurangmangu. Alasannya adalah karena pintu masuk utama ke kampus pada saat itu hanya dari arah Jalan Ceger Raya Jurangmangu Timur. Baru pada tahun 2001 pintu masuk dari arah Jalan Bintaro Utama dibuka, dan bahkan saat ini sudah menjadi pintu masuk utama menuju kampus STAN, sehingga masyarakat lebih mengenal kampus ini dengan sebutan kampus STAN Bintaro.
Perkembangan program reformasi birokrasi dan transformasi kelembagaan menuntut Kementerian Keuangan untuk melakukan penataan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Penataan ini dimaksudkan agar STAN dapat meningkatkan peran dan kontribusinya dalam menyediakan SDM berkompeten dan berintegritas di bidang keuangan negara sejalan dengan arah dan tujuan transformasi kelembagaan Kementerian Keuangan. Hingga pada tanggal 15 Juli 2015 keluarlah Peraturan Menteri Keuangan RI No. 137/PMK.01/ 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Politeknik Keuangan Negara STAN yang menandai berdirinya Politeknik Keuangan Negara STAN.
Hingga tahun 2009 jumlah bangunan gedung di kampus STAN belum begitu banyak. Perubahan terbesar dirasakan mulai tahun tersebut dengan dibangunnya sebuah ikon baru kampus berupa kolam air mancur besar yang menghiasi gedung I dan J yang baru dibangun di sebelahnya. Selain itu terdapat beberapa gedung baru yang dibangun yaitu gedung K dan Student Center. Gedung-gedung tersebut diresmikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani pada tanggal 20 Januari 2010.
Sekilas tentang Jurusan PKN STAN
Politeknik Keuangan Negara Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (PKN STAN) adalah pendidikan tinggi kedinasan di bawah Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan, Kementerian Keuangan Republik Indonesia, yang menyelenggarakan pendidikan Program Studi Diploma bidang keuangan negara. STAN didirikan dengan dasar hukum Keputusan Presiden RI No.45 Tahun 1974 juncto Keputusan Presiden RI No.12 Tahun 1967 serta dengan landasan hukum Peraturan Menteri Keuangan RI No.1/PMK/1977 tanggal 18 Februari 1977. Program studi yang diselenggarakan oleh PKN STAN untuk lulusan SMA, Madrasah Aliyah dan SMK adalah pendidikan Program Studi Diploma I dan III dengan jurusan/program studi sebagai berikut :
  • Program Studi Diploma III / IV Akuntansi
  • Program Studi Diploma I / III Pajak
  • Program Studi Diploma III Penilai / Pajak Bumi dan Bangunan
  • Program Studi Diploma I / III Kepabeanan dan Cukai
  • Program Studi Diploma I / III Kebendaharaan Negara
  • Program Studi Diploma III Manajemen Aset
Sedangkan program studi non-reguler yang diselenggarakan oleh PKN STAN adalah :
  • Program Studi Diploma IV Akuntansi (Tugas Belajar)
  • Program Studi Diploma III Akuntansi dengan Kurikulum Khusus
  • Program Studi Diploma III Pajak dengan Kurikulum Khusus
  • Program Studi Diploma III Kepabeanan dan Cukai dengan Kurikulum Khusus

Kehidupan di STAN
sobat, Kali ini saya bakal bahas gimana sih rasanya kuliah di kampus yang katanya waw banget.  Ya, saya akan mengulas sedikit banyak tentang “Kehidupan Kuliah di PKN-STAN”. So, let’s check it out! 
1. “Kuliah di STAN susah sob”
Ternyata… emang susah sob. Tapi kata “susah” pun subjektif dan di setiap kesulitan pasti akan ada sesuatu yang nilainya setimpal. Kuliah di STAN itu macem-macem rasanya, tergantung kalian aja mau ngadepinnya gimana. Ada sedihnya, susahnya, beratnya, tapi banyak kok senengnya. Ini beberapa “poin-poin pengalaman” (jih) yang gua dapet selama berkuliah di STAN selama satu semester. Iya masih newbie he-he. Maafin ya kalo ada kata-kata yang salah atau ada yang ga satu opini:)
2. Kuliah Gratis
Mahasiswa STAN kuliahnya gratis sob. Sampe saat ini ortu cuma ngeluarin duit 250ribu buat administrasi di PKN-STAN (itu juga uang pendaftaran). Enak kan? Eh tapi… inget gaada yang  gratis di dunia ini:):):) (Belajar yang rajin guys, inget ini duit negara).
3. Ancaman drop out menghantui perkuliahan
Buat kalian yang belom tau, PKN-STAN menggunakan sistem drop out kepada mahasiswa dan mahasiswinya. Makanya gaada yang namanya mahasiswa abadi disini. Kalo IP kalian di bawah 2,4 (untuk semester 1) dan 2,75 (untuk semester 2-6), maka berkemaslah. Kalo kalian berani nyontek pas ujian dan ketauan, maka angkatlah koper kalian. Kalo kalian menyalahi aturan yang mungkin sifatnya fatal, maka bersiaplah. Kalo kalian hobinya bolos dan tipsen, maka berhati-hatilah.
4. IP besar
Biasanya yang susah itu mempertahankan nilai IP biar ga mendekati batas minimum atau bahkan melewati batas minimum. Tapi tenang, asal kalian belajar dengan baik, absennya cukup, mengikuti aturan kampus, selalu sharing ke temen apa yang ga kalian bisa dan belajar bareng, tugas selalu ngerjain, pokonya asal ga neko-neko dan males insyaallah kalian aman.
5. DINAMIKA!!!
Apa itu Dinamika? Cabang ilmu fisika? Sebuah gerakan bersama?. Dinamika STAN adalah singkatan dari Studi Perdana Memasuki Kampus STAN. Intinya ini adalah ospek di kampus PKN-STAN. Rasanya gimana? Beda. Sangat berkesan. Beda dari yang lain. Beda pokonya. Untuk tahun 2015, Dinamika dilaksanakan setiap hari Sabtu selama enam kali karena keterbatasan waktu. Biasanya Dinamika dilaksanakan selama seminggu guys. Tugasnya banyak, tapi memorinya lebih banyak:) Kalian bakal dikasih tugas yang masuk akal dan bermanfaat kok ga yang aneh-aneh gitu. Atributnya juga simpel ga neko-neko. Pas Dinamika kalian bakal banyak kegiatan di Student Center, kalian bakal apel pagi dan apel sore, dapet latihan PBB, dapet dinamika agama juga, pas hari ketiga kalian juga bakal diajak main berbagai macam games, dan sebagainya. Pokonya jangan dibawa beban, sans aja sob, yang ngerasain ga cuma kalian tapi satu angkatan:) Oh iya hampir lupa, ada yang namanya malam inagurasi juga loh. Dan itu sangat keren.
6. Capacity Building
Ya… gitu. Ini buat tingkat satu ya capacity building-nya. Kalo tingkat dua dan tiga gue gatau hehe (maaf ya newbie). Tapi menurut kabar burung semakin tinggi tingkatnya semakin ringan capacity building-nya. Capacity building sering disingkat capbul di kalangan mahasiswa STAN (sounds like cabul, huh?) (eh). Walaupun capek, kotor, dan terlihat..hm ya gitulah, tapi capbul ini seru kok he-he.
7. Kuliahnya pake seragam
Buat kalian yang anaknya fashion abis, mohon ditahan ya soalnya disini wajib pake seragam he-he (gue sih seneng pake seragam ya, biar ga bingung soalnya mau pake baju apa:) ). Untuk hari Senin dan Rabu pake kemeja putih dan celana/rok hitam. Untuk hari Selasa dan Jumat pake kemeja warna polos cerah dan celana/rok gelap. Hari Kamis dan Sabtu pake batik dan celana/rok gelap. Btw aturan itu untuk STAN Bintaro (D3 dan D4) ya, kalo D1 udah ada seragam sendiri kayanya (dan keren:( ).
8. Teman-teman yang ambis
Ambisius emang bagus, tapi kalo berlebihan ya ga bagus juga sih. Disini kalian akan sangat terbiasa melihat teman-teman yang ambis dan kalian akan merasa marah tapi ya buat apa orang dia ga salah. Lalu kalian cepet-cepet balik ke kosan dan buka buku biar ga kalah. Eh baru lima menit udah tidur:) (cerita pribadi). Tapi mungkin ini kerasa pas tingkat satu aja kali ya karena mungkin masih berasa hype dan excited (gue masih semester satu maaf ya).
9. Punya temen se-Indonesia (serius)
BOOM. Disini kalian bakal banyak menemukan teman dari berbagai macam daerah di Indonesia, mulai dari Jawa Tengah, Yogyakarta, Medan, Jawa Timur, Sulawesi, Aceh, Papua, dan masih banyak lagi. Kok bisa? Soalnya STAN banyak yang pengen guys dari Sabang sampe Merauke (yailah sombong) (bercanda guys) (tapi beneran). Jadi setidaknya kalian harus bisa mengerti beberapa bahasa daerah ya:) Btw gue orang Bogor tapi bisa bahasa Palembang fasih, ngerti dikit bahasa Sunda, ngerti aja kalo orang ngomong bahasa Jawa (merasa superior) (yailah sombong lagi).
10. Kalimongso dan sekitarnya
Yak, Calimongso ini terletak di sebelah selatan California (ngga) (garing dih). Kalimongso adalah tempat yang sangat sangat sangat sering dikunjungi mahasiswa STAN. Kebanyakan mahasiswa STAN pun memilih untuk nge-kos disana. Emang deket bro. Makanya banyak yang mau. Segala macam kebutuhan fotokopi mahasiswa, stationery, buku-buku (bahkan dirumorkan akan ada “Penerbit Kalimongso”) ada di Kalmong. Di jalan mau masuk ke Kalmong kalo abis apel pagi atau abis ujian… macet men. Macet. Macet gara-gara motor? Ngga, ini manusia semua isinya. Serius.
11. Tentir
Jarang denger ya?:( Sama dulu juga gue jarang denger sob:( Gue taunya tentor ya gimana ya:( Iya jadi tentir adalah cara pembelajaran yang efektif di STAN. Tentir itu gampangnya adalah belajar kelompok. Ya… kita… belajar… kelompok. Yaudah gitu. Tentir ini sangat dibutuhkan menjelang UTS/UAS. Sangat menjamur, dimana-mana tentir. SC penuh, Plasma banyak manusia, dll (ngga) (ini lebay). Ada juga tentir bersama kating yang biasanya diadakan oleh organisasi mahasiswa seperti IMP, HIMAS, dll.
12. Psytrap
Astaga. Males bahas jenis manusia ini. Ingin berkata kasar rasanya.  Jadi Psytrap adalah sebutan bagi mahasiswa seperti di bawah ini:
X: “Lo ngerti ini ga?”
Psytrap: “Ngga men” (Tapi pas kuis nilainya A)

Tempat-tempat di Stan yang asik buat nongkrong mahasiswa
1. Air Mancur STAN
Icon paling ulala yang STAN punya. Kenapa gitu? Ya gitu aja, soalnya ada tulisannya STAN dan itu menonjol banget. Letaknya deket gerbang depan juga. Biasanya mahasiswa baru kayak gue waktu semester lalu, kalo udah mulai kuliah minggu pertama tuh, pasti (ga bakal engga) foto depan air mancur itu. Nah, semester lalu sih air mancurnya sering mancur, tapi sekarang engga. Jatuhnya malah kayak kolam ijo. Info penting juga, kata Dosen Pengelolaan Barang Milik Negara kelas ku, air mancur ini kalo dinyalakan sehari saja, bisa memakan listrik seharga lebih dari 20 jutaan.
2. Student Center
Aula paling gede yang ada di STAN, letaknya dekat gerbang belakang. Biasanya dipake untuk kegiatan kumpul, olahraga maupun pembekalan waktu ospek. Jadi selasar SC ini dibagi jadi 4, yaitu berdasarkan ia menghadap kemana, ada SC Ceger, Sarmili, Kalmong dan Tiben (Tiang Bendera). Kata Dosen ku lagi, sewa gedung ini termasuk murah (dibandingkan aula lain di daerah sini), sehari semalem cuma sekitar 28 jutaan.
3. Gedung G
Ini tempat pertama yang mungkin bakal dikunjungi secara resmi, soalnya kita biasa daftar ulang disini. Ga ada komen sih buat gedung ini, sering dipakai buat pentas-pentas gitu, buat nikahan juga. FYI sewa gedungnya cuma sekitar 8 jutaan, kalo gue yang punya sih harga sewanya gue naikin :D.
4. Bendungan / Payung-Payung
Letaknya di pusat kampus, pemisah antara gerbang depan dan belakang (jadi ga bisa nembus dari gerbang depan ke belakang kalo gerbang tengah engga dibuka). Tempatnya enak sih, bisa buat nongkrong-nongkrong cantik. Tapi berhubung gue selalu KuPu-KuPu (Kuliah-Pulang) jadi ya engga tertarik.
5. Plasma
Pendopo disamping Bendungan sering dipakai buat kumpul panitia dan organisasi sejenisnya.
6. Tugu Prodi
Engga sebegitu terkenal kayak air mancur sih, soalnya dia ditengah kampus, engga banyak kelihatan juga. Berhubung judulnya tugu prodi, jadi tugu ini mencerminkan warna dari masing-masing kalung prodi (sebelum warna kalung resmi diganti berdasarkan jurusan). Hmm, udah deh itu aja, meski masih banyak gedung dan tempat yang bisa diceritain. Kayak Taman CD, gedung C yang (katanya) angker, Kantin Parma dll. Judul ini bakal disambung dengan judul yang masih ada kaitannya dengan PKN STAN.

Sepenggal kisa tentang Perjuangan Jebol STAN
Pagi tadi saya baru keluar dari pintu gerbang belakang kampus STAN. Seorang Bapak membonceng seorang putrinya langsung menghampiri para satpam yang berada di posko. "Pak, kalau mau daftar STAN ke mana?" tanya Bapak itu. Saya hanya lewat dan tidak memperhatika pembicaraan lebih jauh. Sekolah Tinggi Akuntansi Negara merupakan sekolah kedinasan di bawah Kementerian Keuangan. Setiap mahasiswa di sini memiliki cerita masing-masing. Ada kisah di setiap perjuangan untuk masuk ke sini. Begitulah kami menyebutnya sebagai perjuangan. Bagi saya, masuk ke sini bukan tanpa halangan dan rintangan.

Saya mengenal STAN dari Bapak. Tahun 2001, saat saya baru saja pulang dari pemberian penghargaan tiga lulusan terbaik SMP pada waktu itu. Saya menduduki runner up dan sohib saya Dwi Wibowo (Sekarang bekerja di Direktorat Jenderal Pajak Kemenkeu). Bapak waktu itu semangat sekali ingin saya masuk STAN. Masih bergumul dalam benak saya bahwa STAN itu sekolah keren. Ternyata Bapak mendapatkan inspirasi dari salah seorang Om saya, Rahmat Mulyono (sekarang menjadi Kepala Seksi di Direktorat Akuntansi dan Pelaporan, Ditjen Perbendaharaan Kemenkeu). Setelah itu, saya tidak terlalu obsesi dengan yang namanya STAN sebenarnya.

Saat masuk SMA, guru-guru mulai antusias menceritakan SIPENMARU dan UMPTN. Saya saat itu masih culun dengan istilah-istilah itu. Konon di keluarga saya hanya Bapak yang lulus SIPENMARU di IKIP JAKARTA (sekarang Universitas Negeri Jakarta). Saat itu saya kehilangan orientasi belajar, bahkan-mungkin-orientasi hidup. Akhirnya ada seseorang yang "menjerumuskan" saya kedalam jurang kebenaran dan keindahan Islam, ROHIS SMA N 1 Karanganyar. Di sana saya ketemu banyak ikhwah yang luar biasa. Rata-rata jadi bintang kelas. Sedangkan saya sendiri merasa ber-"bintang tujuh" (pusing) dengan pelajaran di kelas. Entah kenapa, saat itu saya sempat mengalami yang namanya "kehilangan kecerdasan" karena galau level kelurahan stadium 9.

Barangkali hanya saya yang nilai akademiknya paling ancur diantara para anggota Rohis. Setelah ikut berbagai kegiatan, dapat nasehat ini-itu dari para senior dan rekan-rekan organisasi, saya jadi move-on. Saya kagum dengan teman-teman alumni ROHIS yang diterima di perguruan tinggi negeri dengan jurusan favorit seperti teknik mesin, teknik elektro, kedokteran, farmasi, dan STAN. Senior di ROHIS yang masuk STAN diantaranya adalah Mas Swandoko dan Mas Shiddiq Gandhi. Keduanya sekarang bertugas di Ditjen Bea dan Cukai Kemenkeu.

Suatu ketika saya  bersama teman-teman sedang memandangi halaman bawah karena kelas masih kosong, guru belum datang. Tiba-tiba sekelebat manusia berjaket hitam naik motor Honda masuk ke halaman sekolah. Jaket hitam itu berwarna kuning bertuliskan "STAN".  Dalam hati saya berguman "Betapa enaknya bisa masuk STAN. Pingin saya masuk STAN." Pria tadi Mas Eko, atau sering kami menyebutnya Mas Eko Gundul.

Setahun berlalu dan saya akhirnya masuk ke kelas 3 IPA. Sama sekali sebenarnya tidak relevan kalau dipaksakan untuk masuk STAN. Saat itu orientasi utama saya adalah SPMB-Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SNMBTN era 2004). Tulisan mengenai "Cara Saya menjebol SPMB/SMNBTN" akan saya tulis kemudian. Saya ingin diterima di fakultas teknik. Saat itu target umum anak-anak IPA untuk ikhwan/cowok itu teknik dan untuk akhwat /cewek itu kedokteran. Saat itu saya ingin ambil teknik dan masih terpikir untuk masuk STAN. Itu karena keinginan orangtuan, terutama Bapak yang sangat menggebu-gebu.Saya sering mondar-mandir ke warnet untuk download soal-soal USM STAN yang saat itu masih sangat terbatas. Kecepatan internet saat itu membuat saya sering-sering beristighfar. Bagaimana tidak, membuka sebuah website saja butuh waktu 5-10 menit dan download satu buah file PDF butuh waktu hingga 1 jam (sekarang saya buka file serupa kadang hanya dalam satu kedipan mata, hehe). Saya ngeprint soal-soal USM STAN yang tentu saja tidak sedikit biaya yang saya keluarkan. Sebelumnya saya memfotokopi buku kumpulan soal STAN dari buku fotokopian juga karena tidak ada lagi yang asli. Buku kumpulan soal itu akhirnya tidak pernah saya buka karena soalnya sudah tidak relevan. Saat di warnet saya ketemu Mas Margono (saat ini beliau bertugas di Direktorat Jenderal Pajak Kemenkeu). Kemudian sebelum berpisah saya sampai sempat berucap, "Mas, tolong doanya biar bisa seperti Njenengan (Anda-jawa)."

Kemudian di kelas ada yang menawarkan buku USM STAN terbaru. Tanpa pikir dua kali langsung saya pesan. Apapun saya lakukan agar bisa lulus USM STAN. Harganya cukup relatif mahal karena menggerus cukup banyak pos anggaran uang saku saya waktu itu. Tapi tak apalah, ada harga yang harus dibayar dari setiap kesuksesan. Saya pelajari soal-soalnya. Tidak terlalu sulit seperti soal SPMB, tapi... waktunya cukup singkat. Harus bisa mengerjakan 300 soal dalam waktu 300 menit. Artinya kita harus bisa mengerjakan satu soal satu menit. Saya kemudian berpikir, bagaimana bisa mengerjakan semua soal ini dengan cepat, tepat, dan akurat. Saya menyadari tidak semua soal bisa saya kerjakan sebenarnya. Kemudian saya menimbang-nimbang yang sekarang ini saya mengenalnya sebagai teori pareto optimum (aturan 80:20). Dari 100% soal  yang saya hadapi, ada 80% soal yang bisa saya kerjakan. 80% itulah yang saya cari dan 20% akan saya kerjakan berikutnya.

Rahasia I: soal STAN itu setiap tahun mirip tipe dan jumlahnya. Deviasi tipe soal setiap tahun hanya sekitar 5% saja. Maksudnya 5% dari soal USM STAN tahun terakhir. Kemudian saya lakukan simulasi/try out mandiri dengan Buku USM STAN dan hasilnya, masih belum memuaskan. Saya kemudian ikut try out yang diadakan Ikatan Mahasiswa Karangayar STAN. Hasilnya ternyata tidak begitu memuaskan, saya masih di peringkat 20-an dari yang ikut. Sedangkan saya hanya bisa mengerjakan 40% saja. Menurut saya, itu masih belum cukup untuk menembus USM STAN yang sebenarnya. Saya harus melakukan evaluasi belajar. Saya buka lagi soal USM STAN, saya perkaya dengan latihan buku-buku psikotest yang ternyata soalnya hampir sama. Saya analisis lagi, apanya yang kurang. Apa salah saya. Bagaimana cara mengerjaan dengan lebih baik. Saya galau.....

Kegalauan itu membuat saya belajar sampai larut malam, bangun sebelum shubuh. Habi sholat shubuh belajar sampai hampir lupa mandi, sarapan dan berangkat sekolah. Saya belajar untuk menghadapi SPMB dan USM STAN secara  simultan dan berkesinambungan (seperti istilah pakar ekonomi sekarang, hehe). Sampai akhirnya saya ikut Try Out USM STAN untuk kedua kalinya di GOR Manahan Solo yang diselenggarakan oleh Bimbel khusus USM STAN dan STT TELKOM, Iwan*sari. Saya tidak tahu Bimbel macam apa itu, tapi yang penting ikut tryout dengan nebeng mobil sohib saya Daru Setiawan (Sekarang alumni STT Telkom). Pulangnya saya agak puas setelah berhasil menjawab sekitar 75% dari soal yang ada. Setelah ujian SPMB saya baru intens belajar USM STAN lagi, saya buka kembali buku USM STAN, saya lakukan simulasi sampai 4 kali. dan hasilnya saya bisa mengerjakan 93%-97%. Setelah itu saya merasa 'cukup', saya siap tempur.

Juli 2004, Menuju hari H bukan tanpai main repotnya. Alhamdulillah, ane dibantu Mas Sofyan Hadinata (Sekarang jadi dosen Akuntansi di FEUNS). Kami berangkat bersama ke Jogjakarta sejak pukul 07.00. Jarak Jogja-Kabupaten Karanganyar +/-70 KM dan ditempuh dengan waktu 1,5 jam dengan naik motor. Saya menginap di rumah saudara Mas Sofyan. Sore harinya kami sepakat, sebagai pelaksanaan best practice, akhirnya cek TKP ke STIE Kerjasama (STIEKERS) Yogyakarta yang runtuh pada 2005 silam karena gempa di Jogja :( Saya mencari tempat duduk sesuai nomor Bukti Peserta Ujian (BPU). Saya cuma bisa mengehela nafas dalam-dalam. Pasalnya saya harus duduk di tribun penonton GOR STIE STIKERS. Tidak nyaman memang, namun ujian harus dijalani dan perjuangan baru akan dimulai. Malam H-1, Mas Sofyan tampak asik belajar review soal dan saya sebenarnya sudah 'bosen' (ceileh boseennnn :P). Akhirnya saya ikut-ikutan sebentar, cuma 30 menit. Pagi harinya setelah sarapan kami meluncur ke lokasi. Karena sudah cek TKP jadi tidak was-was dan cemas. Saya sudah cek amunisi yang antara lain sebagai berikut:

Pensil 6 buah, kedua ujung saya raut untuk jaga-jaga tumpul di tengah ujian. Bukan untuk dijual lagi :)
Bukti peserta ujian dengan foto saya yang ganteng (tidak cantik)
Penghapus boxy hitam yang sudah saya potong jadi dua  sebagai manajemen risiko jika yang satu hilang, satunya lagi masih ada.
Bolpen dan tip eks jika sewaktu-waktu dibutuhkan.
Jam tangan, waktu itu saya belum punya HP dan HP pun ternyata tidak dibolehkan.
Tisu secukupnya, tangan saya suka keringetan.
Papan melamin karena saya sudah tahu harus duduk di tribun.
Rautan pensil, jika ternyata ada force majeur semua pensil saya patah.

Akhirnya saya duduk dengan tenang di tengah-tengah keributan panitia. Soal saya dapatkan dan akhirnya, sedia, siap, yak!! saya mengerjakan soal dengan konsentrasi 120% sambil berguman dalam hati. Saya harus lulus, whatever! pokoknya! saya harus lulus!!!!!!! dan saat 10 menit terakhir saya mendenger sesuatu. Gergaji mesin terdengar dari sudut 45% di luar gedung. Ini apa panitianya ga kasih tahu kepada pak tukangnya. Hadeh, saya kan ga bisa konsen kalau sudah berisik (pengen banget lempar pot bunga diikat dengan granat). ngeeeengggg!!!!! benar-benar pengen marah dan untungnya kejadian itu cuma 5 menit. saya sudah agak kacau dan mencoba memeriksa lagi jawaban saya. Saya masih bingung dengan vocab bahasa Inggris, sinonim dan antonim. Mau dikerjakan dengan metode penalaran tidak bisa, SMART Solution tak bedaya. Akhirnya saya menggunakan metode paling ampuh, INTUISI!haha. Saya pilih yang 'kayaknya' pas. Persentase pengerjaan 87% dan saya dengan agak sedih menyerahkannya kepada pengawas ujian. Saya cukup puas meski tidak puas banget. Saya tidak seyakin seperti saat ujian SPMB. Saat di rumah saudara Mas Sofyan, saya sudah males banget. Mas Sofyan membahas soal-soal yang kami kerjakan tadi. Saya sebenarnya pengen tutup telinga saja. Sebenarnya soal-soal yang sudah dikerjakan waktu ujian tidak perlu dibicarakan lagi, tidak ada gunanya. Akhirnya saya ikut membahasnya dan ternyata beberapa soal ada yang salah. Penyisihan soal yang salah sekitar 5%, saya cuma manyun aja.

Kami meninggalkan Jogja saat hari H sekitar ba'da Dhuhur. Jogjakarta memang kota sejuta kenangan (melow dikit haha). Dua kali menjadi tempat ujian masuk PTN. Setelah melewati Kota Sukoharjo, saya dan Mas Sofyan kehujanan. Kami lalui hujan itu dengan pasti (pasti basah). sampai akhirnya motornya masuk ke dalam lubang yang tertutup genangan air "brak!". Kami putuskan untuk berteduh di sebuah rumah kosong. Kami akhirnya menyadari bahwa ban yang tadi masuk ke lubang bocor. Mungkin karena hantaman pelek dengan aspal dan akhirnya ban dalamnya sobek. Sebuah diagnosis sederhana.

Langit mulai gelap disertai gerimis dan jalanan juga sepi. Pas banget untuk syuting film horor. Setelah tanya orang-orang akhirnya kami harus berjalan 3 km untuk menemukan tukang tambal ban yang 24 jam. Tempatnya pun di pelosok desa, jauh dari jalan raya. Akhirnya saya sampai dicari Bapak, dan cerita bla..bla..bla.. mengenai 'musibah' kami itu. Bapak dengan senyum berkata, "mungkin ini pertanda bakalan lulus Nak." Saya berguman, "aamin". Sampai rumah masih penasaran dengan soal bahasa Inggris yang saya kerjakan dengan ajian 'pengawuran' itu. Ternyata jawaban saya betul. Senangnya hatiku :)

Semarang, 13 Agustus 2004. Politeknik Ilmu Pelayaran,setelah saya menjalani tes kesehatan dan wawancara untuk masuk Akademi Meteorologi dan Geofisika (setelah saya ketahui belakangan, kampusnya tetanngga dengan STAN, hanya beda kecamatan). Sebai filler di cerita ini, setelah menjalani pemeriksaan fisik dan lab, akhirnya masuk ke ruang wawancara. Berbagai pertanyaan muncul dari dua pewawancara. "Mas, selain daftar di sini, daftar mana?" Saya jawab, "Teknik Elektro UGM Pak". Kemudian Bapak tadi melanjutkan pertanyaan, "jika Mas Siko diterima di UGM juga mana yang akan diambil?" Tanpa merasa bersalah dan khawatir, "Saya pilih UGM Pak!". Pewawancara kemudian senyam-senyum dan melanjutkan pertanyaa." Jadi Mas tidak diterima bagaimana?" Saya jawab, "Ya tidak apa-apa, kalau ada yang lebih baik dari saya." Kemudian saya keluar dari ruangan dan pulang ke rumah nenek di Jatingaleh, Semarang. Saat itu memang saya sudah tahu bahwa nama saya ada di koran pada pengumuman SPMB. Saya nothing to lose saja.

Setelah Jumatan, saya mau tidur. Tiba-tiba bibi saya mendatangi saya dan berkata "selamat Dek Siko, diterima di STAN Jurusan Anggaran. Baru saja Bapakmu telepon dari Jogja." Terus terang, saya pingin nangis. Bukan hanya karena saya diterima di STAN. Melainkan juga bapak sendiri yang datang jauh-jauh dari rumah ke Balai Diklat Keuangan di Kabupaten Karanganyar ke Yogyakarta. Saya tertegun. Meski usaha saya sudah penuh, semua itu atas pertolongan Allah. Tidak ada daya dan upaya kecuali pertolongan Allah. Setiap perjuangan selalu ada harga yang harus dibayar. Harga itu tidak harus berniai uang, tapi juga waktu, perhatian, semangat, komitmen, dan pantang menyerah. Tidak ada yang mustahil jika Allah sudah berkehendak. Tidak peduli dengan masa lalu dan latar belakang Anda. Setiap orang yang ingin masuk STAN sebenarnya sudah punya hak untuk masuk STAN. STAN tidak memandang Anda kaya atau miskin. STAN tidak memandang fisik dan status sosial Anda. Jangan takut dengan pesain. Pesaing tidak menjadi masalah selama Anda mengerjakan soal dengan sebanyak-banyak dengan tingkat kebenaran yang meyakinkan. Fokuslah pada diri Anda.Seberapa besar keinginan Anda untuk diterima di STAN? Sudah berapa jam kah Anda sisihkan untuk belajar/latihan? Sudah kah Anda belajar dari orang-orang yang berpengalaman? Sudahkah Anda ikut Try Out USM STAN? Kisah ini hanya sekelumit cerita seseorang yang biasa-biasa saja. Jika saya bisa, maka Anda juga bisa


sumber: 
http://www.pknstan.ac.id
wikipedia

https://www.kompasiana.com

https://fiftyonejouska.wordpress.com

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Horizontal

Iklan link Modifikasi

Iklan dalam artikel fix

Iklan Bawah