Ingin Kuliah S-2 ke Luar Negeri Cuma untuk Jalan-Jalan? Think Again! (Sebuah Renungan)

Ingin Kuliah S-2 ke Luar Negeri Cuma untuk Jalan-Jalan? Think Again! (Sebuah Renungan)

Ada begitu banyak mahasiswa S-1 yang ingin melanjutkan S-2 ke luar negeri; apalagi setelah booming-nya LPDP, semakin banyak saja yang berkeinginan seperti itu. Sasarannya tentu saja negara-negara maju yang memiliki kualitas pendidikan yang lebih baik daripada Indonesia seperti Amerika Serikat, Jepang, Taiwan, dan negara-negara Eropa.

Ada yang salah dengan semua itu? Oh tentu tidak sama sekali. Tidak ada yang salah dengan belajar ke negeri orang, apalagi dengan beasiswa. Namun, pernahkah bertanya ke diri sendiri "Sudahkah saya siap untuk S-2 di luar negeri?". Jangan-jangan sebenarnya kita hanya ingin "melancong" ke luar negeri?

Baca Juga: Informasi Beasiswa S2 Luar Negeri Bulan Desember 2019 – Info Beasiswa Terbaru

Kuliah S-2 di luar negeri itu tidak semudah dan se-waw instastory Gita Savitri dan Jerome Polin, ferguso. Begitu datang ke negara tujuan pertama kali, wah suasananya akan seperti bulan madu. Foto-foto di setiap sudut, upload instastory setiap detik, senyam-senyum sendiri, etc. Segalanya seakan berada di dunia baru yang eksotis.

Namun, semua berubah setelah dua minggu berlalu. Segala hal yang indah mulai berubah menjadi hambar. Suasana yang instagramable pas awal kedatangan mulai terasa tak spesial. Kebosanan mulai melanda. Kosong. Monoton. Kita mulai mengeluh dengan segala hal yang berbeda dengan tanah air. Kita mengeluh dengan cuaca yang dingin, makanan yang hambar, orang-orang yang individualis, dll. Setelah itu, homesick melanda. Rasa kangen terhadap keluarga dan sahabat di tanah air tidak tertahankan. Memang ada video call, tapi itu semua belumlah cukup. Setiap malam, kita merindukan candaan hangat keluarga dan sahabat yang dulu bisa dilakukan dengan mudah dengan nongkrong di kafe semalaman.


Yang awalnya menjadi mayaoritas di negeri sendiri, sekarang harus merasakan bagaimana hidup menjadi minoritas. Segala privilege Selain itu, kita akan menyadari bahwa berkomunikasi dengan bahasa setempat jauh lebih sulit dari yang dibayangkan. Mempunyai skor TOEFL 600 tidak menjamin kita bisa lancar berkomunikasi di real life. Aksen dan kosakata sehari-hari yang "asing" membuat kita harus berpikir lebih ekstra. Jika kita berada di negara non-bahasa Inggris, usaha ektra bahkan dibutuhkan untuk mempelajari bahasa lokal.

Baca Juga: Informasi Beasiswa S1 S2 S3 Luar Negeri – Info Beasiswa Terbaru

Oh iya, jangan lupakan juga pressure di dunia akademik. Studi S-2 yang berat akan terasa semakin berat di lingkungan negara maju yang kompetitif. Berbagai putra-putri terbaik dari berbagai belahan bumi akan berkumpul di sekitar kita. Belum lagi tugas dan ujian yang bertumpuk dan challenging baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Ditambah dengan kendala bahasa, kelar sudah hidup kita. Bagaimana bisa kita menganggap akumulasi dari hal-hal tersebut sekadar "jalan-jalan"? Suasana real "jalan-jalan" hanya akan terasa pada dua minggu pertama. Setelah itu? Beban, belajar, tekanan, dan homesick.
Tulisan ini tidak bermaksud untuk menurunkan semangat para pemburu S-2 luar negeri. Saya hanya ingin berbagi pengalaman; kuliah S-2 di luar negeri tidak semudah dan seindah yang diromantisasi pikirian orang-orang. Ini justru merupakan tahapan pembelajaran untuk menjadi orang yang tidak "bagai katak dalam tempurung" - sebagai media untuk melihat dunia dari kacamata yang lebih luas. Mari luruskan niat jika ingin S-2 ke luar negeri, terutama dengan beasiswa. Mari niatkan untuk belajar, bukan sekadar jalan-jalan. Mari buka juga pikiran, jangan sekadar buka media sosial.

Manchester, Inggris, 26 November 2019.
Indra Herdiana
Awardee LPDP di University of Manchester
Baca Juga
SHARE
Brainesia
brainesia merupakan website belajar untuk adik-adik SMP sampai kuliah dan dapat di akses 24 jam
Subscribe to get free updates

Related Posts